RSS

Arsip Penulis: 49un

Tentang 49un

saya ingin menjadi seorang yang bisa berguna untuk orang lain dengan memberikan peringatan lewat ayat-ayat Allah yang dengan jelas dapat dibuktikan dan dirasakan.

Inti Dakwah Para Rasul

PERTAMA : Kufur Kepada Thaghut
Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya kewajiban pertama yang Allah
fardhukan atas anak Adam adalah kufur terhadap thaghut dan iman kepada Alah
sebagaimana yang Dia Subhanahu Wa Ta’ala firmankan :

“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat itu seorang rasul (mereka
mengatakan kepada kaumnya): Ibadahlah kepada Allah dan jauhi thaghut” (An Nahl :36)

Perintah kufur terhadap thaghut dan iman kepada Allah adalah inti dari ajaran
semua rasul dan pokok dari Islam. Dua hal ini adalah landasan utama diterimanya amal
shalih, dan keduanyalah yang menentukan status seseorang apakah dia itu muslim atau
musyrik, Allah ta’ala berfirman :

“Siapa yang kufur terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, maka dia itu telah
berpegang teguh kepada buhul tali yang sangat kokoh (laa ilaaha ilallaah)” (Al Baqarah: 256)

Bila seseorang beribadah shalat, zakat, shaum, haji dan sebagainya, akan tetapi
dia tidak kufur terhadap thaghut maka dia itu bukan muslim dan amal ibadahnya tidak
diterima.

Adapun tata cara kufur kepada thaghut adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh
Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah :

1. Engkau meyakini bathilnya ibadah kepada selain Allah,
2. Engkau meninggalkannya,
3. Engkau membencinya,
4. Engkau mengkafirkan pelakunya,
5. Dan engkau memusuhi para pelakunya.

Ini sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang
bersamanya tatkala mereka mengatakan kepada kaumnya : “Sesungguhnya kami berlepas
diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadati selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian
dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya
sampai kalian beriman kepada Allah saja”.(Al Mumtahanah : 4)

Adapun penjabarannya adalah sebagai berikut :

I. Engkau meyakini bathilnya ibadah kepada selain Allah.
Ibadah adalah hak khusus Allah, maka ketika dipalingkan kepada selain Allah, itu
adalah syirik lagi bathil. Do’a adalah ibadah sebagaiman firman-Nya Subhanahu Wa
Ta’ala :

“Berdo’alah kepada-Ku, tentu akan Kukabulkan permohonan kalian,
sesungguhnya orang-orang yang menolak beribadah kepada-Ku, maka mereka akan
masuk nereka Jahannam dalam keadaan hina” (Al Mukmin : 60)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam besabda : “Do’a itu adalah ibadah”.

Memohon kepada orang-orang yang sudah mati adalah di antara bentuk pemalingan
ibadah do’a kepada selain Allah, dan itu harus diyakini bathil, sedang orang yang
meyakini bahwa memohon kepada orang atau wali yang sudah mati adalah sebagai
bentuk pengagungan terhadap wali tersebut maka dia belum kufur terhadap thaghut.

Sembelihan adalah ibadah, dan bila dipalingkan kepada selain Allah maka hal
tersebut adalah syirik lagi bathil, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
“Katakanlah, Sesunggunya shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku adalah bagi Allah
Rabbul ‘alamin, tiada satu sekutupun bagi-Nya” (Al An’am : 162-163)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah melaknat orang yang
menyembelih untuk selain Allah (tumbal)”. Sedangkan dalam kenyataan, orang yang
membuat tumbal, baik berupa ayam atau kambing pada saat hendak membangun rumah,
gedung, jembatan dsb, dia menganggap sebagai tradisi yang patut dilestarikan, maka
orang ini tidak kufur terhadap thaghut.

Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan cara bersedekah makanan
adalah ibadah, sedangkan taqarrub kepada jin dan syaitan dengan sesajen adalah syirik
lagi bathil. Allah berfirman tentang syiriknya orang-orang Arab dahulu :

“Dan mereka menjadikan bagi Allah satu bahagian dari apa yang telah Allah ciptakan
berupa tanaman dan binatang ternak. Mereka mengatakan sesuai dengan persangkaan
mereka : “Ini bagi Allah dan ini bagi berhala-berhala kami”. (Al An’am : 136)
Jadi orang yang menganggap perbuatan sesajen sebagai tradisi yang mesti
dilestarikan, berarti dia tidak kufur terhadap thaghut.

Wewenang (menentukan/membuat) hukum/undang-undang/aturan adalah hak
Allah. Penyandaran hukum kepada Allah adalah bentuk ibadah kepada-Nya, sedangkan
bila wewenang itu disandarkan kepada makhluk maka itu adalah syirik dan merupakan
suatu bentuk ibadah kepada makhluk tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“(Hak) hukum itu tidak lain adalah milik Allah. Dia memerintahkan agar kalian tidak
beribadah kecuali kepada-Nya. Itulah dien yang lurus” (Yusuf : 40)

Dalam ayat diatas Allah memerintahkan menusia agar tidak menyandarkan hukum
kecuali kepada Allah, dan Allah namakan penyandaran hukum itu sebagai ibadah,
sehingga apabila disandarkan kepada makhluk maka hal itu adalah perbuatan syirik,
sebagaimana firman-Nya :

“Dan janganlah kalian memakan dari (sembelihan) yang tidak disebutkan nama Allah
padanya, sesungguhnya hal itu adalah fisq. Dan sesungguhnya syaitan mewahyukan
kepada wali-walinya untuk mendebat kalian, dan bila kalian menta’ati mereka maka
sungguh kalian ini adalah orang-orang musyrik” (Al An’am : 121)

Kita mengetahui dalam ajaran Islam bahwa sembelihan yang tidak memakai nama
Allah adalah bangkai dan itu haram, sedangkan dalam ajaran kaum musyrikin adalah
halal. Syaitan membisikan kepada wali-walinya : “Hai Muhammad, ada kambing mati
dipagi hari, siapakan yang membunuhnya?” maka Rasulullah menjawab : “Allah yang
telah mematikannya” Mereka berkata : “Kambing yang telah Allah sembelih (maksudnya

bangkai) dengan tangan-Nya Yang Mulia kalian haramkan, sedangkan yang kalian
sembelih dengan tangan-tangan kalian, kalian katakan halal, berarti sembelihan kalian
lebih baik daripada sembelihan Allah” (HR. Hakim).

Ucapan tersebut adalah wahyu syaitan untuk mendebat kaum muslimin agar
setuju dengan aturan yang menyelisihi aturan Allah, dan agar setuju dengan
penyandaran hukum kepada mereka, maka Allah tegaskan, bahwa apabila mereka (kaum
muslimin) setuju dengan hal itu berarti mereka telah musyrik, dan dalam ayat lain Allah
Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Mereka (orang-orang Nashrani) menjadikan orang-orang alimnya (ahli ilmu) dan rahibrahib
(para pendeta) mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah dan (juga mereka
mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah
Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia. Maha Suci Allah
dari apa yang mereka persekutukan”. (At Taubah : 31)

Dalam ayat ini Allah memvonis orang Nashrani dengan lima vonis :
1. Mereka telah mempertuhankan para alim ulama dan para rahib
2. Mereka telah beribadah kepada selain Allah, yaitu kepada alim ulama dan para rahib
3. Mereka telah melanggar Laa ilaaha illallaah
4. Mereka telah musyrik
5. Para alim ulama dan para rahib itu telah memposisikan dirinya sebagi arbab.

Di dalam atsar yang hasan dari ‘Adiy Ibnu Hatim (dia asalnya Nashrani kemudian
masuk Islam) Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat itu dihadapan
‘Adiy Ibnu Hatim, maka dia berkata : “Wahai Rasulullah, kami dahulu tidak pernah ibadah
dan sujud kepada mereka (ahli ilmu dan para rahib)”, maka Rasulullah berkata :
“Bukankah mereka itu menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan kalian ikutikutan
menghalalkannya?, dan bukankah mereka mengharamkan apa yang telah Allah
halalkan lalu kalian ikut-ikutan mengharamkannya?” lalu ‘Adiy Ibnu Hatim berkata : “Ya,
betul”, lalu Rasulullah berkata lagi : “Itulah bentuk peribadatan orang-orang Nashrani
kepada mereka itu”. (HR. At Tirmidzi)

Jadi orang Nashrani divonis musyrik karena mereka setuju dengan penyandaran
hukum kepada ahli ilmu dan para rahib, meskipun itu menyelisihi aturan Allah Subhanahu
Wa Ta’ala.

Sedangkan pada masa sekarang, orang meyakini bahwa demokrasi adalah pilihan
terbaik, atau minimal boleh menurut mereka. Padahal demokrasi berintikan pada
penyandaran wewenang hukum kepada kedaulatan rakyat atau wakil-wakilnya,
sedangkan ini adalah syirik, maka orang tersebut tidak kufur terhadap thaghut dan dia itu
belum muslim.

Allah ta’ala berfirman berkaitan dengan semua peribadatan di atas :
“Itu Dikarenakan Sesungguhnya Allah Adalah satu-satunya Tuhan Yang Haq, dan
sesungguhnya apa yang mereka seru selain Dia adalah bathil” (Luqman : 30)

juga firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala :
“Itu dikarenakan sesungguhnya Allah adalah satu-satunya Tuhan Yang Haq dan
sesungguhnya apa yang mereka seru selainNya adalah yang bathil” (Al Hajj : 62)

II. Engkau meninggalkannya
Meyakini perbuatan syirik itu adalah bathil belumlah cukup, namun harus disertai.
Meninggalkan perbuatan syirik itu. Orang yang meyakini pembuatan tumbal/sesajen itu
bathil, akan tetapi karena takut akan dikucilkan masyarakatnya lalu ia melakukan hal
tersebut maka dia tidak kufur terhadap thaghut. Orang yang meyakini bahwa demokrasi
itu syirik, tetapi dengan dalih ‘Maslahat Dakwah’ lalu ia masuk ke dalam sistem
demokrasi tersebut, maka dia tidak kufur terhadap thaghut. Seperti orang yang membuat
partai-partai berlabel Islam dalam rangka ikut dalam ‘Pesta Demokrasi’

Sesungguhnya kufur terhadap thaghut menuntut seseorang untuk meninggalkan
dan berlepas diri dari kemusyrikan tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayah dan kaumnya:
“Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian ibadati” (Az Zukhruf : 26)

Juga firman-Nya tentang Ibrahim ‘alaihissalam :
“Dan saya tinggalkan kalian dan apa yang kalian seru selain Allah” (Maryam : 48)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Saya diperintahkan untuk memerangi
manusia hingga mereka bersaksi akan Laa ilaaha ilallaah…” (Muttafaq ‘alaih)

Sedangkan orang yang tidak meninggalkan syirik, maka dia itu tidak diangap
syahadatnya, karena yang dia lakukan bertentangan dengan apa yang dia ucapkan, oleh
sebab itu Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata : “Dan siapa
yang bersyahadat Laa ilaaha ilallaah, namun disamping ibadah kepada Allah dia
beribadah kepada yang lain juga, maka syahadatnya tidak dianggap meskipun dia shalat,
shaum, zakat dan melakukan amalan Islam lainnya” (Ad Durar As Saniyyah : 1/323, Cet.
Minhajut Ta’sis : 61).

Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad rahimahullah berkata :
“Ulama berijma, baik ulama salaf maupun khalaf dari kalangan para shahabat dan tabi’in,
para imam dan semua Ahlus Sunnah bahwa orang tidak dianggap muslim kecuali dengan
cara mengosongkan diri dari syirik akbar dan melepaskan diri darinya”. (Ad Durar As
Saniyyah : 2/545). Beliau juga berkata : “Siapa yang berbuat syirik, maka dia telah
meninggalkan Tauhid”. (Syarah Ashli Dienil Islam, Majmu’ah tauhid).

Orang yang berbuat syirik, dia tidak merealisasikan firman-Nya :

“Dan mereka itu tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah seraya
memurnikan seluruh ketundukan kepada-Nya”. (Al Bayyinah : 5).
Orang yang melakukan syirik akbar meskipun tujuannya baik maka dia tetap belum kufur
terhadap thaghut.

Al Imam Su’ud Abdil Aziz Ibnu Muhammad Ibnu Su’ud rahimahullah berkata:
“Orang yang memalingkan sedikit dari ibadah itu kepada selain Allah maka dia itu
musyrik, sama saja baik dia itu ahli ibadah atau orang fasiq, dan sama saja maksudnya
itu baik atau buruk”. (Durar As Saniyyah : 9/270).

Syaikh Sulaiman Ibnu Abdillah Ibnu Muhammad mengatakan :
“Sesungguhnya pelafalan Laa ilaaha ilallaah tanpa mengetahui maknanya dan tanpa
mengamalkan tuntutannya berupa komitmen terhadap tauhid, meninggalkan syirik, dan
kufur kepada thaghut maka sesungguhnya hal itu (syahadat) tidak bermanfaat, atas ijma
(para ulama)”. (Kitab Taisir)

Syaikh Hamd Ibnu Atiq rahimahullah berkata : “Para ulama ijma, bahwa siapa
yang memalingkan sesuatu dari dua macam do’a kepada selain Allah, maka dia telah

musrik meskipun dia mengucapkan Laa ilaaha ilallaah Muhammadur Rasulullah, dia
shalat, shaum dan mengaku muslim”. (Ibthal At Tandid : 76).
Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan rahimahullah berkata : “Orang tidak disebut
muwahhid kecuali dengan cara menafikan syirik dan bara’ah darinya”

Jadi, orang yang tidak meninggalkan syirik, dia tidak kufur terhadap thaghut.

III. Engkau Membencinya
Orang yang meninggalkan perbuatan syirik akan tetapi dia tidak membencinya,
maka dia belum kufur terhadap thaghut. Ini dikarenakan Allah mensyaratkan adanya
kebencian terhadap syirik dalam merealisasikan tauhid kepada-Nya. Allah berfirman
tentang Ibrahim ‘alaihissalam :

“Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian ibadati”. (Az Zukhruf : 26)
Kata bara’ (berlepas diri) dari syirik itu menuntut adanya kebencian akan adanya syirik
itu. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ikatan iman yang paling kokoh
adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah”

Kebencian terhadap syirik ini berbentuk realita, yaitu tidak hadir di majelis syirik
saat syirik sedang berlangsung. Sebagai contoh : orang yang hadir di tempat membuat
atau mengubur tumbal yang sedang dilakukan, maka dia itu sama dengan pelakunya.
Allah ta’ala berfirman :

“Dan sungguh Dia telah menurunkan kepada kalian dalam Al Kitab, yaitu bila kalian
mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olok, maka janganlah kalian duduk
bersama mereka sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain, karena
sesungguhnya kalian (bila duduk bersama mereka saat hal itu dilakukan), berarti sama
(status) kalian dengan mereka”. (An Nisa : 140)

Jadi orang yang duduk dalam majelis di mana kemusyrikan atau kekufuran sedang
berlangsung atau sedang dilakukan atau dilontarkan (diucapkan) dan dia duduk tanpa
dipaksa dan tanpa mengingkari hal tersebut maka dia sama kafir dan musyrik seperti
para pelaku kemusyrikan tersebut.

Seandainya kalau tidak dapat mengingkari dengan lisannya maka hal tersebut
harus diingkari dengan hatinya yang berbentuk sikap meninggalkan majelis tersebut.
Sungguh sebuah kesalahan fatal orang yang mengatakan : “Saya ingkar dan benci dihati
saja”, sedangkan dia tidak pergi meninggalkan majelis tersebut.

Oleh karenanya para shahabat pada masa khalifah Utsman radliyallahu ‘anhu
berijma atas kafirnya seluruh jama’ah mesjid di kota Kuffah saat salah seorang di antara
mereka mengatakan : “Saya menilai apa yang dikatakan Musailamah itu bisa jadi benar”
dan yang lain hadir di mesjid itu tanpa mengingkari ucapannya seraya pergi darinya.
(Riwayat para penyusun As Sunan / Ash habus Sunan)

Orang yang tidak membenci ajaran syirik, agama kufar, sistem kafir, dan thaghut
berarti ia tidak kufur terhadap thaghut.

IV. Engkau Mengkafirkan Pelakunya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkafirkan para pelaku syirik akbar dalam banyak
ayat, di antaranya :
“Dan orang-orang yang menjadikan sembahan-sembahan selain Allah, (mereka
mengatakan) : “kami tidak beribadah kepada mereka, melainkan supaya mereka itu
mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah
memutuskan di antara mereka dihari kiamat dalam apa yang telah mereka perselisihkan,
sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang yang dusta lagi sangat
kafir” (Az Zumar : 3)

Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala :

“Dan siapa yang menyeru ilaah yang lain bersama Allah yang tidak ada bukti dalil kuat
buat itu baginya, maka perhitungannya hanyalah di sisi Rabnya, sesungguhnya tidak
beruntung orang-orang kafir itu” (Al Mukminun : 117)
Bila Allah mengkafirkan para pelaku syirik, maka orang yang tidak mengkafirkan
mereka berarti tidak membenarkan Allah. Dia Subhanahu Wa Ta’ala juga telah
memerintahkan untuk mengkafirkan para pelaku syirik, di antaranya adalah firman-Nya :

“Dan dia menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah supaya dia menyesatkan dari jalan-
Nya, katakanlah, “Nikmatilah kekafiranmu sebentar, sesungguhnya kamu tergolong
penghuni neraka”. (Az Zumar : 8)

Dan orang yang tidak mengkafirkan pelaku syirik, berarti dia menolak perintah
Allah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam besabda : “Siapa yang mengucapkan Laa
ilaaha ilallaah dan dia kafir terhadap segala sesuatu yang diibadati selain Allah, maka
haramlah harta dan darahnya, sedangkan perhitungannya adalah atas Allah” (HR.
Muslim)

Para imam dakwah Najdiyyah telah menjelaskan maksud sabda Nabi Shalallahu
‘alaihi wa sallam, “dan dia kafir terhadap segala sesuatu yang diibadati selain Allah”
maksud kalimat tersebut adalah : Mengkafirkan pelaku syirik dan berlepas diri dari
mereka dan dari apa yang mereka ibadati. (Durar As Saniyyah : 291)
Orang yang tidak mengkafirkan pelaku syirik akbar adalah orang yang tidak kufur
kepada thaghut.

Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata : “Orang yang
tidak mengkafirkan para pelaku syirik atau ragu akan kekafiran mereka atau
membenarkan ajaran mereka, maka dia telah kafir” (Risalah Nawaqidlul Islam)

Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan rahimahullah berkata : “Seseorang tidak
menjadi muwahhid kecuali dengan menafikan syirik, berlepas diri darinya dan
mengkafirkan pelakunya” (Syarh Ashli Dienil Islam – Majmu’ah Tauhid)
Syaikh Abdul Lathif Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan rahimahullah berkata :
“Dan sebahagian ulama memandang bahwa hal ini (mengkafirkan pelaku syirik) dan jihad
di atasnya adalah salah satu rukun yang mana Islam tidak tegak tanpanya”. (Mishbahuzh
Zhalam : 28).

Beliau berkata lagi : “Adapun menelantarkan jihad dan tidak mengkafirkan orangorang
murtad, orang yang menjadikan andaad (tandingan-tandingan) bagi Tuhannya,
dan orang yang mengangkat andaad dan arbaab (tuhan-tuhan) bersama-Nya, maka
sikap seperti ini hanyalah ditempuh oleh orang yang tidak beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya. Orang yang tidak mengagungkan perintah-Nya, tidak meniti jalan-Nya dan
tidak mengagungkan Allah dan Rasul-Nya dengan pengagungan yang sebenar-benarnya
pengagungan terhadap-Nya, bahkan dia itu tidak menghargai kedudukan ulama dan para
imam umat ini dengan selayaknya”. (Mishbahuzh Zhalam :29)]

Para imam dakwah Nejd berkata : “Di antara hal yang mengharuskan pelakunya
diperangi adalah sikap tidak mengkafirkan pelaku-pelaku syirik atau ragu akan kekafiran
mereka karena sesungguhnya hal itu termasuk pembatal dan penggugur keIslaman.
Siapa yang memiliki sifat ini maka dia telah kafir, halal darah dan hartanya serta wajib
diperangi sehingga dia mengkafirkan para pelaku syirik”. (Durar As Saniyyah : 9/291)

Mereka juga mengatakan : “Sesungguhnya orang yang tidak mengkafirkan orangorang
musyrik, dia itu tidak membenarkan Al Qur’an, karena sesungguhnnya Al Qur’an
telah mengkafirkan para pelaku syirik dan memerintahkan untuk mengkafirkan mereka,
memusuhi mereka dan memerangi mereka”. (Ad Durar As Saniyyah: 9/291).

Jadi, takfir (mengkafirkan) para pelaku syirik adalah bagian Tauhid dan pondasi
dien ini, bukan fitnah sebagaimana yang diklaim oleh musuh-musuh Allah dari kalangan
ulama suu’ (ulama jahat) kakitangan thaghut dan kalangan Neo Murji’ah. Orang
mengkafirkan pelaku syirik bukanlah Khawarij, justeru mereka itu adalah penerus dakwah
para rasul. Orang yang menuduh mereka sebagai Khawarij adalah orang yang tidak
paham akan dakwah para rasul.

Syaikh Abdul Lathif Ibnu Abdirrahman rahimahullah berkata : “Siapa yang
mengatakan pengkafiran dengan syirik akbar termasuk aqidah Khawarij maka sungguh
dia telah mencela semua rasul dan umat ini. Dia tidak bisa membedakan antara Dien para
rasul dengan madzhab Khawarij, dia telah mencampakan nash-nash Al Qur’an dan dia
mengikuti selain jalan kaum muslimin”. (Mishbahudz Dzalam : 72).

Orang yang tidak mengkafirkan pelaku syirik akbar secara nau’ (jenis pelaku)
maka dia kafir, sedangkan orang yang membedakan antara nau’ dengan mu’ayyan (orang
tertentu) maka minimal jatuh dalam bid’ah dan bila (sudah) di tegakan hujjah atasnya
maka dia kafir juga.

Orang yang tidak mau mengkafirkan para pelaku syirik pada umumnya dia lebih
loyal kepada pelaku syirik dan justru memusuhi para muwahhid yang mengkafirkan
pelaku syirik. Demikianlah realita yang terjadi, sehingga banyak yang jatuh dalam
kekafiran. Tidaklah sah shalat di belakang orang yang tidak mengkafirkan pelaku syirik
secara mu’ayyan.

Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata : “Siapa yang
membela-bela mereka (para thaghut dan pelaku syirik akbar) atau mengingkari terhadap
orang yang mengkafirkan mereka, atau mengklaim bahwa : ‘perbuatan mereka itu
meskipun bathil tetapi tidak mengeluarkan mereka pada kekafiran’, maka status minimal
orang yang membela-bela ini adalah fasiq, tidak diterima tulisannya, tidak pula
kesaksiannya, serta tidak boleh shalat bermakmum di belakangnya” (Ad Durar As
Saniyyah : 10/53)

Ini adalah status minimal, adapun kebanyakannya adalah berstatus sebagaimana
yang digambarkan Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah : “Orangorang
yang merasa keberatan dengan masalah takfir, bila engkau mengamati mereka
ternyata kaum muwahhidin adalah musuh mereka, mereka benci dan dongkol kepada
para muwahhid itu. Sedangkan para pelaku syirik dan munafikin adalah teman mereka
yang mana mereka bercengkrama dengannya. Akan tetapi hal seperti ini telah menimpa
orang-orang yang pernah bersama kami di Diriyah dan Uyainah yang mana mereka
murtad dan benci akan dien ini”. (Ad Durar As Saniyyah : 10/92)

V. Engkau Memusuhi Mereka
Orang yang tidak memusuhi pelaku syirik bukanlah orang yang kufur kepada
thaghut, Allah berfirman tentang ajaran Ibrahim as. Dan para nabi yang bersamanya :

“Dan tampak antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian selamanya hingga kalian
beriman kepada Allah saja” (Al Mumtahanah : 4)

Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala :

“Kalian tidak mungkin mendapatkan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari
akhir saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya,
meskipun mereka itu ayah-ayahnya, anak-anaknya, saudara-saudaranya atau karib
kerabatnya” (Al Mujadillah : 22)

Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah mengatakan :
“Sesungguhnya orang tidak tegak keIslamannya walaupun ia mentauhidkan Allah dan
meninggalkan kemusyrikan kecuali dengan memusuhi para pelaku syirik” (Syarh Sittati
Mawadli Minas Sirah, Majmu’ah Tauhid : 21)

Permusuhan lainnya adalah loyalitas-loyalitas kepada orang kafir menafikan
(meniadakan) keimanan/tauhid, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Dan siapa yang berloyalitas kepada mereka (orang-orang kafir) di antara kalian, maka
sesungguhnya dia adalah bagian dari mereka” (Al Maidah : 51)

Karena permusuhan ini Allah ta’ala berfirman :

“Maka bunuhilah orang-orang musyrik itu di manapun kalian mendapati mereka,
tangkaplah mereka, kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat pengintaian” (At-Taubah : 5)

Semua ini adalah cara kufur kepada thaghut…
KEDUA : Iman Kepada Allah

Adapun makna ibadah kepada Allah adalah :
I. Engkau meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya ilaah yang berhak diibadahi
II. Engkau memurnikan seluruh macam ibadah hanya kepada Allah
III. Dan engkau menafikan ibadah itu dari selain Allah
IV. Engkau mencintai lagi loyal kepada orang yang bertauhid
V. Serta engkau membenci lagi memusuhi para pelaku syirik

Penjelasannya adalah sebagai berikut :

I. Engkau meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya ilaah yang berhak
diibadati

Orang yang membolehkan tumbal, sesajen, permohonan kepada orang yang
sudah meninggal atau meyakini serta memegang sistem demokrasi berarti dia telah
meyakini adanya ilaah yang lain bersama Allah, mereka tidak beriman kepada Allah.
Orang yang menyerukan penegakan hukum thaghut atau menyerukan demokrasi, dia itu
tidak beriman kepada Allah, begitu juga orang yang menyerukan hukum adat.

Orang yang bertauhid hanya meyakini satu sumber hukum, yaitu Allah Subhanahu
Wa Ta’ala. Orang yang bertauhid hanya meyakini satu Dzat yang berhak diibadati. Allah
ta’ala berfirman :
“Katakanlah ; “Dialah Allah Yang Maha Esa”. (Al Ikhlas : 1)

dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala :
“Janganlah engkau mengangkat dua tuhan, Dia itu hanyalah Tuhan Yang Maha Esa” (An-Nahl : 51)

Sedangkan tuhan-tuhan para ‘Ubadul Qubur adalah banyak, yaitu orang-orang yang
sudah mati yang mereka ajukan permohonan (permintaan) kepadanya. Dan adapun
tuhan-tuhan para pengusung demokrasi adalah banyak pula, ada tuhan dari Partai A,
Partai B, Partai C dan seterusnya. Para pembuat hukum itu adalah tuhan-tuhan mereka.

II. Engkau memurnikan seluruh macam ibadah hanya kepada Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan memerintahkan ibadah kepada-Nya, akan tetapi
Dia memerintahkan supaya orang hanya ibadah kepada-Nya, dan tidak
mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya dalam ibadah-ibadah tersebut, sebagaimana
firman-Nya :

“Dan mereka tidak diperintahkan kecuali supaya mereka beribadah kepada Allah seraya
memurnikan seluruh Dien (ketundukan) hanya kepada-Nya”. (Al Bayyinah : 5)
juga firman-Nya ta’ala :

“Dan barangsiapa yang menyerahkan wajahnya sepenuhnya kepada Allah sedang dia itu
muhsin (mengikuti tuntunan rasul), maka dia itu telah berpegang pada buhul tali yang
sangat kokoh” (Luqman : 22).

Menyerahkan wajah sepenuhnya kepada Allah adalah dengan cara beribadah hanya
kepada Allah, sebagaimana Dia ta’ala berfirman :

“Ya, siapa orangnya yang menyerahkan wajahnya sepenuhnya kepada Allah, sedang dia
muhsin (berbuat kebaikan) maka bagi dia pahala di sisi Tuhannya,
tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka itu tidaklah bersedih” (Al Baqarah : 112)
Syaikh Abdul Lathif Ibnu Abdirrahman rahimahullah berkata : “Ayat ini adalah
bantahan terhadap ‘ubadul qubur yang menyeru selain Allah dan beristighatsah kepada
selain-Nya, karena penyerahan wajah serta ihsan dalam beramal itu tidak pada diri
mereka” (Minhaj At Ta’sis)

‘Ubadul Qubur adalah orang-orang yang mengaku Islam, shalat, zakat, shaum,
haji, dsb. Tetapi masih suka meminta kepada orang yang sudah mati, terutama orang
shalih atau wali. Maka ‘ubadul qubur adalah kaum musyrikin.
Syaikh Ali Khudlair, di awal kitab Ath Thabaqat menyebutkan bahwa di antara
golongan yang termasuk ‘ubadul qubur adalah : Para penguasa thaghut, para budaknya
(aparat keamanan), para pengusung undang-undang buatan, kaum demokrat dan yang
lainnya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Hak Allah atas hamba-hamba-
Nya adalah mereka beribadah kepada-Nya dan mereka tidak menyekutukan sesuatupun
dengan-Nya” (hadits shahih dari Mu’adz)

Orang yang berbuat syirik, berarti dia telah melanggar hak Allah. Jelasnya bahwa
orang yang mengaku beriman pada rukun iman, rukun Islam dan dia beribadah kepada
Alah, akan tetapi disamping itu dia membuat tumbal, sesajen, memohon kepada
penghuni kubur atau ikut serta dalam demokrasi, maka mereka itu dianggap tidak
beriman kepada Allah (dia bukan muslim).

Syaikh Adurrahman Ibnu Hasan rahimahullah berkata : “Para ulama telah
berijma, baik salaf maupun khalaf dari kalangan shahabat, tabi’in, para imam dan seluruh
Ahlus Sunnah bahwa seseorang tidak dianggap muslim kecuali dengan cara (dia)
mengosongkan diri dari syirik akbar, berlepas diri darinya dan dari pelakunya, membenci
mereka, memusuhi mereka sesuai kekuatan dan kemampuan, serta memurnikan amalan
seluruhnya bagi Allah” (Ad Durar As Saniyyah : 11/545)
Perkataan seseorang ”Saya beriman kepada Allah dan saya bukan musyrik”
tidaklah bermanfaat bila ternyata realita syirik ada padanya, oleh sebab itu Al Hasan Al
Bashri rahimahullah berkata : “Iman itu bukan angan-angan dan bukan dengan hiasan,
akan tetapi ia adalah apa yang terpatri di dalam hati dan dibenarkan dengan amalan”.

III. Menafikan ibadah itu dari selain Allah
Orang yang beriman kepada Allah tidak mungkin memalingkan satu macam
ibadahpun kepada selain Allah, karena orang yang memalingkan satu saja ibadah kepada
selain Allah, berarti telah meninggalkan Islam. Oleh sebab itu Allah ta’ala memerintahkan
kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatakan kepada orang-orang kafir :

“Aku tidak beribadah kepada apa yang kalian ibadahi” (Al Kafirun : 2).

IV. Engkau Mencintai Dan Loyal (Wala) Kepada Orang Yang Bertauhid
Orang yang beriman kepada Allah pasti mencintai dan loyal kepada orang yang
bertauhid, karena mereka memiliki ikatan persaudaran di atas dien ini, Allah ta’ala
berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” (Al Hujurat : 10)

dan firman-Nya dalam ayat yang lain :
“Orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan sebahagiannya adalah penolong
bagi sebahagian yang lain” (At Taubah : 71)
Oleh sebab itu tidak mungkin orang mukmin mendukung orang-orang kafir dalam rangka
menghancurkan kaum muslimin karena itu bertentangan dengan wala (loyalitas)
terhadap kaum muslimin.

V. Engkau membenci pelaku-pelaku syirik dan memusuhi mereka
Allah mengatakan tentang ucapan para rasul semuanya yang harus kita ikuti :
“Dan tampaklah antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian selama-lamanya
sehingga kalian beriman kepada Allah saja…” (Al Mumtahanah : 4)
Orang yang tidak membenci dan tidak memusuhi pelaku syirik adalah orang yang
tidak beriman kepada Allah. Falsafah yang mengajarkan agar tidak membenci atau
memusuhi ajaran agama lain adalah falsafah kafir. Sistem yang menyamakan semua
ajaran agama adalah sistem syirik. Orang yang bertauhid pasti membenci dan memusuhi
pelaku syirik meskipun ayah sendiri atau anak sendiri. Syaikh Muhammad Ibnu Abdil
Wahhab rahimahullah berkata : “Tidak tegak keIslaman seseorang meskipun dia tidak
beribadah kecuali kepada Allah, kecuali dengan cara memusuhi para pelaku syirik”

Raihlah iman dengan cara memusuhi para pelaku syirik. Ini adalah penjelasan
makna Iman kepada Allah.

SIAPAKAH THAGHUT ?
Thaghut adalah segala yang dilampaui batasnya oleh hamba, baik itu yang diikuti
atau ditaati atau diibadati. Thaghut itu banyak, apalagi pada masa sekarang. Adapun
pentolan-pentolan thaghut itu ada 5, di antaranya :

1. Syaitan

Syaitan yang mengajak ibadah kepada selain Allah. Adapun tentang makna ibadah
tersebut dan macam-macamnya telah anda pahami dalam uraian sebelumnya. Syaitan
ada dua macam : Syaitan Jin dan Syaitan Manusia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan begitulah Kami jadikan bagi tiap nabi musuhnya berupa syaitan-syaitan
manusia dan jin” (Al An’am : 112)

dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala :
“Yang membisikan dalam dada-dada manusia, berupa jin dan manusia” (An Naas : 5-6)
Orang mengajak untuk mempertahankan tradisi tumbal dan sesajen, dia adalah
syaitan manusia yang mengajak ibadah kepada selain Allah. Tokoh yang mengajak mintaminta
kepada orang yang sudah mati adalah syaitan manusia dan dia adalah salah satu
pentolan thaghut. Orang yang mengajak pada sistem demokrasi adalah syaitan yang
mengajak ibadah kepada selain Allah, dia berarti termasuk thaghut. Orang yang
mengajak menegakan hukum perundang-undangan buatan manusia dia adalah syaitan
yang mengajak beribadah kepada selain Allah.
Orang yang mengajak kepada paham-paham syirik (seperti : sosialis, kapitalis,
liberalis, dan falsafah syirik lainnya) maka dia adalah syaitan yang mengajak beribadah
kepada selain Allah, sedangkan Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Bukankan Aku memerintahkan kalian wahai anak-anak Adam : “Janganlah ibadati
syaitan, sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagi kalian” (Yaasin : 60)

2. Penguasa Yang Dzalim
Penguasa dzalim yang merubah aturan-aturan (hukum) Allah, thaghut semacam
ini adalah banyak sekali dan sudah bersifat lembaga resmi pemerintahan negara-negara
pada umumnya di zaman sekarang ini. Contohnya tidaklah jauh seperti parlemen,
lembaga inilah yang memegang kedaulatan dan wewenang pembuatan hukum/undangundang.
Lembaga ini yang berwenang apakah akan membuat hukum atau tidak, dan baik
hukum yang digulirkan itu seperti hukum Islam atau bahkan menyelisihinya, maka tetap
saja lembaga berikut anggota-anggotanya ini adalah thaghut, meskipun sebagiannya
mengaku memperjuangkan syari’at Islam. Begitu juga Presiden/Raja/Emir atau para
bawahannya yang suka membuat Surat Keputusan (SK) atau TAP yang menyelisihi aturan
Allah, mereka itu adalah thaghut.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Orang dikala
menghalalkan yang haram yang telah diijmakan atau merubah aturan yang sudah
diijmakan, maka dia kafir lagi murtad dengan kesepakatan para fuqaha” (Majmu Al
Fatawa : )

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya para anggota parlemen itu adalah
thaghut, tidak peduli darimana saja asal kelompok atau partainya. Presiden, menterimenteri
negara bersistem syirik adalah thaghut, sedangkan para aparat keamanannya
adalah sadanah (juru kunci) thaghut apapun status kepercayaan yang mereka klaim.
Orang-orang yang berjanji setia pada sistem syirik dan hukum thaghut adalah budakbudak
(penyembah/hamba) thaghut. Orang yang mengadukan perkaranya kepada
pengadilan thaghut disebut orang yang berhukum kepada thaghut, sebagaimana firman-
Nya Subhanahu Wa Ta’ala :

“Apakah engkau tidak melihat kepada orang-orang yang mengaku beriman kepada apa
yang telah diturunkan kepadamu dan apa yang dtirirunkan sebelum kamu, sedangkan
mereka hendak berhukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk
kafir terhadapnya” (An Nisa : 60)

3. Orang yang memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan.
Kepala suku dan kepala adat yang memutuskan perkara dengan hukum adat
adalah kafir dan termasuk thaghut. Jaksa dan Hakim yang memvonis bukan dengan
hukum Allah tetapi berdasarkan hukum/undang-undang buatan manusia, maka
sesungguhnya dia itu Thaghut. Aparat dan pejabat yang memutuskan perkara
berdasarkan Undang Undang Dasar thaghut adalah thagut juga. Allah ta’ala berfirman :

“Dan siapa saja yang tidak memutuskan dengan apa yang Allah turunkan, maka
merekalah orang-orang kafir itu” (Al Maidah : 44)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Siapa yang meninggalkan aturan yang baku
yang diturunkan kepada Muhammad Ibnu Abdullah penutup para nabi dan dia justru
merujuk pada aturan-aturan (hukum) yang sudah dinasakh (dihapus), maka dia telah
kafir. Apa gerangan dengan orang yang merujuk hukum Ilyasa (Yasiq) dan lebih
mendahulukannya daripada aturan Muhammad maka dia kafir dengan ijma kaum
muslimin” (Al Bidayah : 13/119).
Sedangkan Ilyasa (Yasiq) adalah hukum yang dibuat Jenggis Khan yang berisi
campuran hukum dari Taurat, Injil, Al Qur’an. Orang yang sekarang lebih mendahulukan
hukum buatan manusia dan adat daripada aturan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
maka dia itu kafir.

Dalam ajaran tauhid, seseorang lebih baik hilang jiwa dan hartanya daripada dia
mengajukan perkaranya kepada hukum thaghut, Allah ta’ala berfirman :
“Fitnah (syirik & kekafiran) itu lebih dahsyat dari pembunuhan” ( Al Baqarah :191)
Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman rahimahullah berkata : “Seandainya penduduk
desa dan penduduk kota perang saudara hingga semua jiwa musnah, tentu itu lebih
ringan daripada mereka mengangkat thaghut di bumi ini yang memutuskan
(persengketaan mereka itu) dengan selain Syari’at Allah” (Ad Durar As Saniyyah : 10
Bahasan Thaghut)

Bila kita mengaitkan ini dengan realita kehidupan, ternyata umumnya manusia
menjadi hamba thaghut dan berlomba-lomba meraih perbudakan ini. Mereka rela
mengeluarkan biaya berapa saja untuk menjadi Abdi Negara dalam sistem thaghut,
mereka mukmin kepada thaghut dan kafir terhadap Allah. Sungguh, buruklah status
mereka ini…!!

4. Orang yang Mengaku Mengetahui Hal Yang Ghaib Selain Allah.

Semua yang ghaib hanya ada ditangan Allah, Dia ta’ala berfirman :
“Dialah Dzat yang mengetahui hal yang ghaib, Dia tidak menampakan yang ghaib itu
kepada seorang pun” (Al Jin : 26)

Bila ada orang mengaku mengetahui hal yang ghaib maka dia adalah thaghut,
seperti dukun, paranormal, tukang ramal, tukang tenung, dsb. Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa orang yang mendatangi dukun atau tukang
ramal dan dia mempercayainya maka dia telah kafir, dan apa gerangan dengan status si
dukun tersebut ??!

5. Orang yang Diibadati Selain Allah dan Dia Ridha Dengan Peribadatan itu.
Orang yang senang bila dikultuskan, sungguh dia adalah thaghut. Orang yang
membuat aturan yang menyelisihi aturan Allah dan Rasul-Nya adalah thaghut. Orang
yang mengatakan “Saya adalah anggota legislatif” sama dengan ucapan : “Saya adalah
Tuhan”, karena orang-orang legislatif itu sudah merampas hak khusus Allah, yaitu
membuat hukum (undang-undang). Mereka senang bila hukum yang mereka gulirkan itu
ditaati lagi dilaksanakan, maka mereka adalah thaghut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala
berfirman :

“Dan barang siapa yangmengatakan di antara mereka ; “Sesungguhnya Aku adalah
Tuhan selain Allah” maka Kami membalas dia dengan Jahannam, begitulah Kami
membalas orang-orang yang zalim” (Al Anbiya : 29)
Itulah tokoh-tokoh thaghut di dunia ini…

Orang tidak dikatakan beriman kepada Allah sehingga dia kufur kepada thaghut,
kufur kepada thaghut adalah separuh Laa ilaaha ilallaah. Thaghut yang paling berbahaya
pada masa sekarang adalah thaghut hukum, yaitu para penguasa yang membabat aturan
Allah, mereka menindas umat ini dengan besi dan api, mereka paksakan kehendaknya,
mereka membunuhi, menculik, dan memenjarakan kaum muwahhidin yang menolak
tunduk kepada hukum mereka. Akan tetapi banyak orang yang mengaku Islam berlombalomba
untuk menjadi budak dan hamba mereka. Dan mereka juga memiliki ulama-ulama
jahat yang siap mengabdikan lisan dan pena mereka demi kepentingan ‘tuhan’ mereka.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala cepat membersihkan negeri kaum muslimin
dari para thaghut dan kaki tangannya, Amin ya Rabbal ‘alamiin….

KETIGA : Tauhid adalah syarat diterimanya amal shaleh
Amal shalih apapun, baik itu shalat, shaum, zakat, haji, infaq, birrul walidain
(bakti pada orang tua) dan sebagainya tidak mungkin diterima Allah Subhanahu Wa
Ta’ala dan tidak ada pahalanya bila tidak disertai tauhid yang bersih dari syirik.
Berapapun banyaknya amal kebaikan yang dilakukan seseorang tetap tidak mungkin ada
artinya bila pelakunya tidak kufur kepada thaghut, sedangkan seseorang tidak dikatakan
beriman kepada Allah apabila dia tidak kufur kepada thaghut.
Anda telah mengetahui makna kufur kepada thaghut beserta thaghut-thaghut
yang mesti kita kafir kepadanya. Kufur kepada thaghut serta iman kepada Allah adalah
dua hal yang dengannya orang bisa dikatakan mukmin dan dengannya amalan bisa
diterima, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Siapa yang melakukan amal shalih baik laki-laki atau perempuan sedang dia itu mukmin,
maka Kami akan berikan kepadanya penghidupan yang baik serta Kami akan memberikan
kepadanya balasan dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka amalkan”
(An Nahl : 97)

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan pahala amal shalih hanya
bagi orang mukmin, sedang orang yang suka membuat tumbal, sesajen, meminta kepada
orang yang sudah mati atau mengusung demokrasi atau nasionalisme dan falsafah sistem
syirik lainya maka dia bukanlah orang mukmin, tetapi dia musyrik, karena tidak kufur
kepada thaghut, sehingga shalat, shaum, zakat dan ibadah lainnya yang dia lakukan
tidaklah sah dan tidak ada pahalanya.

Juga Allah ta’ala berfirman :

“Siapa yang melakukan amal shalih, baik laki-laki atau perempuan sedangkan dia
mukmin, maka mereka masuk surga seraya mereka diberi rizqi di dalamnya tanpa
perhitungan” (Ghafir/Al Mukmin : 40)
Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan pahala masuk surga bagi
orang yang beramal shalih dengan syarat bahwa dia mukmin, sedangkan para pendukung

Pancasila, Demokrasi, dan Undang Undang Dasar buatan tidaklah dikatakan mukmin,
karena tidak kufur kepada thaghut, tapi justeru dia adalah hamba thaghut.
Juga dalam firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala :

“Dan siapa yang melakukan amalan-amalan shalih baik laki-laki atau perempuan, sedang
dia itu mukmin, maka mereka masuk surga dan mereka tidak dizalimi barang sedikitpun”.
(An Nisa : 124)
Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan pahala surga bagi orang
yang beramal shalih, dengan syarat dia mukmin, sedangkan aparat thaghut demokrasi,
Pancasila, Undang Undang Dasar buatan dan Pemerintah kafir mereka itu bukan mukmin,
karena tidak kafir terhadap thaghut, bahkan mereka menjadi pelindung dan benteng bagi
thaghut.

Juga firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala :

“Dan siapa yang melakukan amal-amal shalih sedang dia itu mukmin, maka dia tidak
takut dizalimi dan tidak pula takut akan dikurangi” (Thaha : 112)
Ini berbeda dengan orang musyrik dan kafir, dia tidak dapat apapun dari amal
shalih yang dia kerjakan.

Juga firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala :

“Dan siapa yang melakukan amal shalih, sedang dia itu mukmin maka tidak ada
pengingkaran terhadap amalannya dan sesungguhnya Kami tuliskan bagi dia apa yang
dia lakukan” (Al Anbiya : 94)
Sedangkan para penguasa sistem syirik dan para pejabatnya serta para anggota
parlemennya bukanlah orang mukmin, akan tetapi mereka adalah Thaghut.
Semua ayat mengisyaratkan iman untuk diterimanya amal shalih, sedangkan para
penyembah kuburan atau batu atau pohon keramat atau pengusung demokrasi atau
hukum buatan manusia atau falsafah syirik (seperti Pancasila, dan Undang Undang Dasar
buatan) atau aparat keamanan penguasa thaghut bukanlah orang yang kafir terhadap
thaghut.

Jadi, kemanakah amalan-amalan yang mereka lakukan? Maka jawabannya ;
hilang, sirna lagi sia-sia, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala :

“Sungguh, bila kamu berbuat syirik, maka hapuslah amalanmu, dan sunguh kamu
tergolong orang-orang yang rugi” (Az Zumar : 65)
Amalan-amalan yang banyak itu hilang sia-sia dengan satu kali saja berbuat syirik,
maka apa gerangan apabila orang tersebut terus-menerus berjalan di atas kemusyrikan,
padahal ayat ini ancaman kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak
mungkin berbuat syirik. Dan begitu juga para nabi semuanya diancam dengan ancaman
yang sama. Allah ta’ala berfirman :

“Dan bila mereka berbuat syirik, maka lenyaplah dari mereka apa yang pernah mereka
amalkan” (Al An’am : 88)
Ya, lenyap bagaikan debu yang disapu angin topan, sebagaimana firman-Nya ta’ala :

“Amalan-amalan mereka (orang-orang musyrik/kafir) adalah bagaikan debu yang diterpa
oleh angin kencang di hari yang penuh badai” (Ibrahim : 18)
Dalam ayat ini Allah serupakan amalan orang-orang kafir dengan debu, sedangkan
kekafiran dan kemusyrikan mereka diserupakan dengan angin topan. Apa jadinya bila
debu diterpa angin topan… ? tentu lenyaplah debu itu.
Allah juga mengibaratkan amalan orang kafir itu dengan fatamorgana :

“Dan orang-orang kafir amalan mereka itu bagaikan fatamorgana di tanah lapang, yang
dikira air oleh orang yang dahaga, sehingga tatkala dia mendatanginya ternyata dia tidak
mendapatkan apa-apa, justeru dia mendapatkan Allah di sana kemudian Dia
menyempurnakan penghisaban-Nya” (An Nur : 39)

Orang yang musyik disaat dia melakukan shalat, zakat, shaum, dan sebagainya,
mengira bahwa pahalanya banyak di sisi Allah, tapi ternyata saat dibangkitkan dia tidak
mendapatkan apa-apa melainkan adzab!

Dalam ayat lain amalan-amalan mereka itu bagaikan debu yang bertaburan :

“Dan Kami hadapkan apa yang telah mereka kerjakan berupa amalan, kemudian Kami
jadikannya debu yang bertaburan” (Al Furqan : 23)

Sungguh… sangatlah dia merugi sebagaimana dalam ayat lain :

“Katakanlah, “Apakah kalian mau kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang
yang paling rugi amalannya, yaitu orang-orang yang sia-sia amalannya dalam kehidupan
di dunia ini, sedangkan mereka mengira bahwa mereka melakukan perbuatan baik?” (Al
Kahfi : 102-104)
Ya, memang mereka rugi karena mereka lelah, capek, letih, berusaha keras, serta
berjuang untuk amal kebaikan, tapi ternyata tidak mendapat apa-apa karena tidak
bertauhid. Allah ta’ala berfirman :

“Dia beramal lagi lelah, dia masuk neraka yang sangat panas” (Al Ghasyyiah : 3-4).
Ini (tauhid) adalah syarat paling mendasar yang jarang diperhatikan oleh banyak
orang. Masih ada dua syarat lagi yang berkaitan dengan satuan amalan, yaitu ikhlas dan
mutaba’ah. Dan berikut ini adalah penjelasan ringkasnya :

1. Ikhlas
Orang yang melakukan amal shaleh akan tetapi tidak, justeru dia ingin dilihat
orang atau ingin didengar orang, maka amalan-amalan itu tidak diterima Allah
sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala :

“Siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah dia beramal
shalih dan tidak menyekutukan sesuatupun dalam ibadah kepada Tuhannya” (Al Kahfi :110)

Ayat ini berkenaan dengan ikhlas, orang yang saat melakukan amal shalih dan dia
bertujuan yang lain bersama Allah maka ia itu tidak ikhlas.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits qudsiy :
“Bahwa Allah berfirman : ‘Aku adalah yang paling tidak butuh akan sekutu, siapa yang
melakukan amalan di mana dia menyekutukan yang lain bersama-Ku dalam amalan itu,
maka Aku tinggalkan dia dengan penyekutuannya” (HR. Muslim)

2. Mutaba’ah (sesuai dengan tuntunan Rasul)
Amal ibadah meskipun dilakukan dengan ikhlas akan tetapi tidak sesuai dengan
tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka pasti ditolak. Beliau Shalallahu
‘alaihi wa sallam bersabda : “Siapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasarnya dari
kami , maka itu tertolak” (HR. Muslim)
Beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda : “Jauhilah hal-hal yang diada-adakan
karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat” (HR. At
Tirmidzi)
Sedikit amal tapi di atas Sunnah adalah lebih baik daripada banyak amal dalam
bid’ah. Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata : “Ikutilah (tuntunan Rasulullah) dan
jangan mengada-ada yang baru”
Jadi, dalam urusan ibadah, antum harus bertanya pada diri sendiri: “Apa landasan
atau dalil yang kamu jadikan dasar? Karena siapa kamu beramal ?” Apabila tidak
mengetahui dasarnya maka tinggalkanlah amalan itu karena hal itu lebih selamat bagi
kita.

PENULIS :
Abu Sulaiman Aman Abdurrahman
http://www.ashhabulkahfi.com
http://www.millahibrahim.wordpress.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 10, 2011 in Uncategorized

 

                                         Silsilah Pertama
Tauhidullah Adalah Haq Allah Terhadap Hamba-HambaNYA  
(Al Urwah Al Wutsqo)

Ketahuilah olehmu – semoga Allah merahmatimu-, bahwa hal paling pertama yang Allah fardhukan terhadap semua hamba untuk mempelajari dan mengamalkannya sebelum sholat, zakat, shaum, hajji dan segala hal fardhu lainnya, adalah TAUHID. Allah Ta’ala berfirman:

“Maka ketahuilah! Bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah.” (QS. Muhammad: 19)

Dan bahwa pada dasarnya Allah Ta’ala tidak menciptakan mereka kecuali untuk merealisasikan hal yang agung ini. Allah Ta’ala berfirman:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat: 56), yaitu supaya mereka mentauhidkan-Ku (mereka mengabdi/beribadah HANYA kepada-Ku saja.

Dan ia adalah makna LAA ILAAHA ILLALLAH, dimana ia bermakna bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali hanya Allah saja.Dan bahwa ia adalah tujuan yang karenanyalah diutus para Rosul. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan Jauhilah Thoghut itu!” (QS. An Nahl 36), dan firman-Nya: “Sembahlah Allah dan Jauhilah Thoghut!” itu adalah makna kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH. Karena ia meliputi AnNafyu (peniadaan/penghapusan/pembuangan/penolakan terhadap semua macam sesembahan/ tempat pengabdian) dan Al Itsbat (penetapan, yaitu penetapan bahwa hanya Allah saja satu-satunya yang haq dan berhak menjadi ilah/sesembahan tempat tercurahnya segala bentuk ibadah dan pengabdian&ketaatan para hamba). Di mana (yang menunjukkan) nafyu adalah pada kalimat LAA ILAAHA, dan (yang menunjukkan) itsbat adalah pada kalimat ILLALLAH.

Dan LAA ILAAHA (tidak ada ilah yang haq) adalah mengandung makna sikap menjauhi/menolak segala yang diibadahi selain Allah, yaitu Thoghut [1]) bila ia ridho dengan peribadatan tersebut; dan ILLALLAH (kecuali hanya Allah saja) adalah mengandung makna penetapan bahwa segala ibadah/pengabdian/ketaatan hanyalah kepada Allah saja satu-satunya. Dan untuk merealisasikan kalimat syahadat yang agung ini maka harus lengkap menggabungkan sekaligus antara nafyu dan itsbat. Karena jika hanya nafyu saja, itu adalah kekafiran dan ta’thil (pengguguran/pengosongan/ penghapusan) adanya Ilah/ sesembahan. Namun jika hanya itsbat saja tanpa adanya nafyu, maka itu adalah tidak mencukupi karena ia bias memungkinkan terkandungnya keimanan (pengakuan) kepada sesembahan-sesembahan lain selain Allah Ta’ala. Sehingga jika hamba menggabungkan relisasi antara NAFYU dan ITSBAT sekaligus maka bermakan ia hanya beribadah kepada Allah saja satu-satunya dan ia berlepas diri (menolak, menjauhi, mengingkari, menentang, antipati) kepada segala sesembahan yang diibadati selain Allah. Maka baru dengan sikap begitulah ia merealisasikan tauhid yang dibawa oleh semua Rosul. Allah Ta’ala berfirman:

Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-perintahNya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya, yaitu : “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasannya tidak ada Sesembahan (yang Haq) melainkan AKU, maka hendaklah kalian bertaqwa kepadaKU” (QS. An Nahl : 2)

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rosul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasannya tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah (ibadahilah) Aku!” (QS.Al Anbiya: 25)

Dan dalam As Sunnah, sabda Nabi Shalallahu alahi wassalam: “Sesuatu yang paling utama yang diucapkan oleh aku dan para Nabi sebelumku adalah LAA ILAAHA ILLALLAH” (HR. Al Bukhari)

Dan karena sebab tujuan yang paling agung ini terjadilah pertentangan antara para Rosul dengan kaum-kaum mereka, dan di dalamnya terjadilh perseteruan, al wala, al baro’, kecintaan, kebencian, loyalitas dan permusuhan. Dan karenanya banyak para nabi dibunuh dan disakiti, serta karenanya para sahabat disiksa dan diintimidasi di Mekkah sebelum diwajibkan sholat, zakat, hajji, dan kewajiban-kewajiban lainnya. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rosul) dari kalangan mereka, dan orang-orang kafir berkata, “ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.” Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan” (QS. Shood: 4-5)

Firman Allah Ta’ala tentang ucapan kaum musyrikin dalam hal pengingkaran mereka terhadap urusan terbesar yang dibawa Nabi Shalallah alahi wasalam : “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja??” adalah juga menunjukkan makna dari ungkapan di ayat lain, “Sembahlah Allah saja dan jauhilah Thoghut itu!>>, dan ia adalah makna Laa ilaaha illallah.

Dan inilah Al Urwah Al Wutsqo yang Allah telah menjamin bagi hamba-hambaNya bila mereka berpegang teguh padanya, bahwa ia tidak akan putus, dan keselamatan tidak akan terwujud kecuali dengan berpegang teguh padanya. Allah Ta’ala berfirman:

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa kafir kepada thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang sangat kokoh yang tidak akan putus” (QS.Al Baqoroh 256).

Firman-Nya: ‘Barangsiapa KAFIR KEPADA THOGHUT’ adalah wujud penafian yang dikandung/dimaksud oleh Laa ilaaha. Dan firmanNya ‘dan BERIMAN KEPADA ALLAH’ adalah itsbat yang dikandung/dimaksud oleh illallah.

Al Urwah Al wutsqo (buhul tali yang sangat kokoh kuat) yang mana seseorang tidak akan selamat kecuali dengan berpegang teguh kepadanya adalah Laa Ilaaha illallah.

Dan itu dikarenakan, sesungguhnya buhul tali keimanan itu sangat banyak, sedangkan manusia ada yang memegang itu seluruhnya atau sebagiannya. Ada yang memegang buhul tali sholat saja, ada yang memegang buhul tali shodaqoh dan amal-amal kebaikan saja, akan tetapi hal itu semuanya tidak cukup untuk keselamatan tanpa al urwah al wutsqo. Jadi tidak ada keselamatan selamanya kecuali bila al urwah al wutsqo yang agung ini (laa ilaaha illallah) terealisasi sebelum buhul-buhul tali iman lainnya. Karena tanpa al urwah al wutsqo maka buhul-buhul tali yang lain itu tidak akan diterima. Oleh karena itu, Fir’aun sesungguhnya ketika menyaksikan kebinasaannya dan ia tenggelam maka ia tidak memegang atau berlindung kecuali dengannya, akan tetapi hal itu terjadi setelah keadaannya terlambat. Allah Ta’ala berfirman:

Hingga ketika Fir’aun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil (yakni Allah), dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Yunus: 90).

Dan karena agungnya posisi tauhid ini maka sungguh telah sah dari hadits Nabi Shalallahu alahi wassalam bahwa seandainya langit dan bumi seluruhnya ditaruh di satu sisi timbangan, dan Laa Ilaaha Illallah di sisi yang lain, tentulah laa ilaaha illallah itu lebih berat dari langit dan bumi seluruhnya itu.

Oleh sebab itu tidak ada di sana suatu yang lebih agung dalam menolak bencana daripada tauhid, ini buktinya bahwa do’a saat mengalami kesulitan adalah: [Allah, Allah, Allah adalah Robb-ku dan aku tidak menyekutukan seorang pun denganNYA] dan oleh sebab itu para Nabi –sedangkan mereka itu adalah orang yang paling mengetahui dan paling paham- mereka itu saat dalam kondisi sulit bersandar pada tauhid dan bertawassul kepada Allah dengannya, karena mereka mengetahui bahwa di sana tidak ada yang lebih agung kedudukannya di sisi Allah dari padanya. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi-Nya Yunus alahis salam:

Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dholim.” Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiyaa 87-88).

Bila Engkau telah memahami apa yang telah lalu, yaitu pentingnya tauhid (laa ilaaha illallah) serta keagungan posisi dan kedudukannya, dan bahwa maknanya adalah mentauhidkan Allah dengan seluruh ibadah, yaitu bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadati kecuali Allah, maka wajib atas kamu mempelajari makna ‘ibadah agar kamu bias mentauhidkannya secara total bagi Allah dan kamu MENJAUHI PERIBADATAN selainNya dengan bentuk ibadah apapun, sehingga kamu merealisasikan tauhid secara sempurna.

Dan begitu juga wajib atas kamu memahami makna syirik yang merupakan lawan tauhid supaya kamu menjauhinya.

Dan ketahuilah sebelum itu, bahwa laa ilaaha illallah memiliki banyak syarat yang mana ia tidak sah kecuali dengannya, yaitu:

  1. Pertama: Al Ilmu (mengetahui) akan maknanya, baik nafyu maupun itsbat. Allah Ta’ala berfirman:                                                                                                                              “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak diibadati melainkan Allah.” (QS. Muhammad: 19)
  2. Kedua: Al Yaqin (Keyakinan) yang meniadakan keraguan. Rosulullah Shalallahu alahi wassalam bersabda: “Manusia yang paling bahagia dengan syafa’at saya di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah[2]) seraya tulus dari hatinya atau dirinya.” (HR. Bukhori).
  3. Ketiga: Ash Shidqu (jujur) yang menafikan kebohongan, di mana ia tidak diterima dari orang yang mengucapkannya seraya berdusta, seperti orang-orang munafiq. Allah Ta’ala berfirman:                                                                                                                    “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. An Nisa: 145).
  4. Keempat: Al Ikhlash (pemurnian) yang menafikan syirik. Allah berfirman:                  “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga.” (QS. Al Maidah: 72) dan akan datang penjelasan syirik.
  5. Kelima: Al Mahabbah (mencintai). Yaitu mencintai kalimat ini dan kandungannya.
  6. Keenam: Al Inqiyad (tunduk), yakni tunduk kepada hak-haknya. Wahhab bin Munabih berkata: “Laa ilaaha illallah adalah kunci surga, sedangkan setiap kunci itu memiliki gigi-gigi, dan barang siapa datang dengan kunci yang memiliki gigi maka dibukakan baginya, dan barang siapa datang dengan kunci yang tidak memiliki gigi maka tidak akan dibukakan baginya. Sedangkan gigi-gigi itu adalah hak-hak laa ilaaha illallah berupa rukun-rukun Islam, kefardhuan-kefardhuannya serta ikatan-ikatan al iman dan konsekuensi-konsekuensinya.
  7. Ketujuh: Menjauhi pembatal-pembatalnya. Dan ia itu sangat banyak. Sedangkan yang paling berbahaya adalah menyekutukan Allah. Dan akan datang penjelasan sebagian pembatal-pembatalnya.

Dan ketahuilah bahwa tauhid ini dinamakan oleh ahli ilmu dengan nama Tauhid Uluhiyah atau Tauhid Ibadah. Dan di sana ada dua macam lain yang disebutkan Ulama, yaitu:

  1. Tauhid Rubuubiyyah : yaitu keyakinan bahwa Allah lah yang Menciptakan, Memberi Rizqi lagi Mengatur. Dan ini saja tidak cukup untuk keselamatan, dimana orang-orang kafir Quroisy dahulu mengimaninya, namun demikian mereka tidak menjadi orang Islam dengan sebabnya dan dara atau harta mereka juga tidak terjaga, sampai mereka merealisasikan Tauhid ibadah dan mereka berlepas diri dari tuhan-tuhan mereka yang batil. Allah Ta’ala berfirman:                                                     “Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (QS. Al Ankabut: 61)
  2. Tauhid Al Asmaa Wash Shifaat: yaitu engkau mensifati Allah dengan sifat-sifat yang Dia tetapkan bagi DzatNya, tanpa tasybih, tamtsil, dan tanpa takyif ataupun ta’thil, dan engkau tidak mensifati seorang-pun dengan sesuatu dari sifat-sifat-Nya.

SYIRIK: Ketahuilah bahwa dosa terbesar yang dengannya Allah didurhakai adalah syirik. Allah ta’ala berfirman:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu.” (QS. An Nisa: 48).

Dan Nabi Shalallah alahi wassalam telah ditanya tentang dosa terbesar, maka beliau berkata: “Kamu menjadikan bagi Allah tandingan sedangkan Dialah yang telah menciptakan kamu.” Dan syirik itu menghapuskan seluruh amalan. Allah Ta’ala berfirman:


“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan HAPUSLAH amalan dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65).

Dan syirik itu ada dua macam: AKBAR dan ASHGHOR.

Adapun Syirik Ashghor : maka ia itu seperti sedikit riya’ dan seperti sumpah dengan selain Allah Ta’ala, seperti orang yang sumpah dengan nabi atau dengan ka’bah atau dengan kedudukan atau yang lainnya, maka ini syirik ashghor. Kecuali bila meyakini bahwa yang dijadikan sumpah itulah lebih agung dari Allah, maka ia menjadi syirik akbar. Dan hal itu tampak dari peremehan mereka terhadap sumpah dengan nama Allah serta rasa takut dan khawatir mereka bila disumpahi dengan tuhan-tuhan mereka yang lain.

Adapun syirik akbar maka ia adalah menjadikan bersama Allah sembahan yang lain yang ia sekutukan bersamaNya dalam macam ‘ibadah apapun dari macam-macam ‘ibadah, dimana ia sujud kepadaNya atau sholat atau memohon atau mengharap atau takut darinya seperti dia mengharap dan takut dari Allah atau mencintainya seperti kecintaan kepada Allah atau memohon pertolongan kepadanya dalam melenyapkan bahaya dan dalam mendatangkan manfaat dalam suatu yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, atau mengikutinya dan mentaatinya dalam hukumnya, penghalalan serta pengharaman semua itu adalah syirik kepada Allah Yang Maha Agung. Dan dari ini mengetahui bahwa syirik adalah kebalikan tauhid, dimana ia bisa jadi dalam uluhiyah dan bias jadi dalam bab al asma wa sifat: yaitu dengan cara mensifati Allah dengan sebagian sifat makhluqNya. Umpamanya, orang mengatakan Tangan Allah itu seperti tangan makhluq, padahal Allah berfirman seraya mensifati DzatNya:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dial ah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuuro: 11).

Atau mensifati selain Allah dengan sebagian sifatNya Ta’ala, atau membentuk nama baginya dari nama-nama Allah, sebagaimana kaum musyrikin menamakan ‘Uzza dari (asma Allah) Al ‘Aziz.

Meninggalkan sholat juga termasuk hal-hal yang telah dijelaskan Rosulullah Shalallah alahi wassalam bahwa ia menjatuhkan pada syirik, sebagaimana sabdanya: “Sesungguhnya antara seseorang dengan syirik (Asy Syirk) dan kekafiran (Al Kufri) itu adalah meninggalkan sholat” (HR. Muslim) dalam Kitabul Iman dari Jabir ibnu Abdillah ra dari Nabi Shalallah alahi wassalam).

Saya memohon kepada Allah Ta’ala agar melindungi kita dari syirik, karena Dia Ta’ala telah berfirman: “Sesungguhnya barangsiapa menyekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka Allah telah haramkan surga terhadapnya” (QS. Al Maidah: 72)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 26, 2011 in Uncategorized